Rambu-Rambu Cinta yang Anda Perlu Peka Oktober 19, 2008
Posted by upay in Loveee melulu.add a comment
Kadangkala, menjalin sebuah hubungan bagaikan naik mobil ke tempat yang asing, tanpa petunjuk apa pun. Rasanya menakutkan, bikin penasaran, tapi juga sering menimbulkan kejutan yang menyenangkan. Agar Anda tidak “tersesat”, simak dulu rambu yang berikut ini:
1. Menghabiskan waktu sendiri akan memperkuat ikatan
Yang namanya orang pacaran tentu ke mana-mana ingin berdua. Tapi, membagi waktu dan berkumpul dengan sahabat serta menjalani hobi, sama pentingya. “Saat Anda dan kekasih saling berjauhan, Anda jadi punya banyak cerita dan ide untuk dibagi bersama,” kata Jennifer Oikle, PhD. Lagi pula, saat Anda sedang tidak bersama si dia, pikiran Anda justru tertuju padanya dan muncul rasa rindu untuk bertemu dengannya.
2. Percayai insting
Secara alamiah, setiap wanita memiliki intuisi pada sesuatu yang tak beres. Jadi, bila Anda tak menerima kabar apa pun dari si dia selama dua hari, Anda patut curiga. Apalagi sekarang komunikasi sudah demikian mudah, tak cuma lewat telepon, tapi juga SMS, email, atau instant messenger. “Saat seseorang ingin mengakhiri hubungan, biasanya mereka kerap membuat jarak,” kata Paul Coleman, penulis buku The Complete Idiot’s Guide to Intimicay.
3. Mungkin Ia akan selingkuh lagi
Pria selingkuh bukan cuma karena rasa cinta yang mulai luntur, tapi juga rasa penasaran, pemuasan ego, dan sulit menahan godaan yang sudah di depan mata. Sebuah survei yang dilakukan oleh situs msnbc.com, menyebutkan, pria cenderung melakukan perselingkuhan dua kali. Jadi, bila si dia punya history pernah selingkuh dengan mantan kekasihnya, jangan terlalu mudah percaya padanya.
4. Ingin melindungi
Meski di dunia kerja Anda melihat kaum pria seolah tak mau kalah bersaing dengan wanita, namun sebenarnya mereka punya kebutuhan untuk melindungi, menjadi orang yang dibutuhkan oleh orang yang mereka cintai. “Pria merasa sangat berguna saat mereka bisa berbuat sesuatu untuk orang yang istimewa,” kata Allen Berger, PhD, penulis buku Love Secrets Revealed. Jadi, meski Anda adalah wanita mandiri yang mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tak ada salahnya mengizinkan si dia menunjukkan sisi maskulinnya.
5. Jangan takut putus
Banyak alasan mengapa seseorang ngotot mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat. Tak sedikit yang rela melakukan berbagai upaya untuk melanjutkan hubungan itu. Padahal sebuah studi terbaru menyebutkan, putus dari hubungan yang tidak sehat ternyata rasanya tidak sesakit apa yang selama ini mereka takutkan. Singkat kata, putus cinta bukan berarti dunia kiamat. Jadi, bila Anda merasa ia bukan orang yang tepat, jangan takut untuk memutuskan hubungan dan mencari kebahagiaan yang selama ini dicari.
Perbedaan Pria dan Wanita di Dunia Kerja Oktober 19, 2008
Posted by upay in Dunia Kerja.add a comment
SANGAT menyenangkan bila kita dapat bekerja sama dengan rekan sekerja pria. Perbedaan antara pria dan wanita, terutama dalam bidang komunikasi, sering membuat kita tertawa dan menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan di tempat kerja. Hal ini juga membantu para wanita agar lebih mengerti dan menghargai bagaimana Tuhan menciptakan kaum pria.
Yang jelas, pendapat berikut bukan untuk menyamaratakan perbedaan antara pria dan wanita. Namun, walau bagaimanapun, selalu ada pengecualian yang didasarkan pada jender. Secara umum, perbedaan antara pria dan wanita di dunia kerja adalah sebagai berikut:
Perbedaan 1: Cara Berpikir
Pola pikir pria cenderung didasari pada fakta, sementara wanita cenderung pada konsep dan jalinan hubungan. Semangat wanita sama halnya dengan sistem kereta api bawah tanah, yaitu saling berhubungan, sedangkan semangat pria seperti kapal di atas lautan yang berlayar dari titik A menuju titik B.
Perbedaan 2: Cara Memerintah
Pria cenderung lebih tegas, sementara wanita lebih halus tetapi dengan penekanan di akhir kalimat. Di satu sisi mereka berusaha mempertahankan keharmonisan, tetapi di sisi lain mereka memberi penekanan seperti kata-kata yang diucapkan di akhir kalimat seperti, “Kamu bisa, kan?”
Perbedaan 3: Pemilahan
Pria dapat bekerja sama dengan orang yang tidak disukainya. Wanita pada umumnya sulit untuk dapat bekerja sama dengan orang yang tidak disukainya. Hal ini dikarenakan pria dapat memilah-milah, “Pekerjaan, ya, pekerjaan.” Sebaliknya, wanita dalam melakukan sesuatu selalu menghubungkan hal satu dan lainnya. Contohnya, bisa saja terjadi mereka tidak dapat bekerja dengan si X yang sering bercanda dengan cara tidak sopan.
Perbedaan 4: Mengekspresikan Perasaan
Bila seorang pria ingin mengutarakan perasaannya, mereka akan membicarakannya kepada istri atau kekasihnya. Paling tidak, pada orang terdekatnya. Sementara wanita dapat mengutarakan perasaannya kepada siapa saja, tidak selalu kepada orang yang dekat dengannya, baik kepada teman sekerja ataupun kepada sesama wanita yang sama-sama sedang mengantre di kasir. Bahkan kepada dokter dan tukang potong rambut pun mereka bisa bercerita dengan bebas.
Perbedaan 5: Pendekatan Saat Ada Masalah
Saat menghadapi masalah, pria akan berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Bagi wanita, tidak cukup hanya dengan memikirkan permasalahan yang dihadapi. Wanita memerlukan seseorang untuk mendengarkan keluhannya walaupun orang tersebut tidak selalu harus memberi solusi. Pria memerlukan solusi. Pria senang memecahkan permasalahan, tidak hanya membicarakannya.
Perbedaan 6: Tujuan
Baik pria maupun wanita ingin mencapai tujuannya, tetapi masing-masing punya cara yang berbeda. Pria cenderung memfokuskan hasil akhir dan tertarik pada cara pencapaian usaha. Wanita lebih memfokuskan pada pencapaian sasaran dan cenderung untuk mempertimbangkan penilaian orang lain. Bila di dalam suatu rapat terdapat dua orang pria yang saling berdebat dengan serunya, maka hal itu tidak berarti mereka saling membenci.
Perbedaan 7: Komentar
Pria dapat memberikan komentar secara terus terang dan memotong pembicaraan orang lain bila ingin berkomentar, sementara wanita cenderung lebih peka dan berhati-hati. Oleh karena itu, bila Anda meminta pendapat kepada rekan pria, mereka akan langsung memberikan pendapatnya. Bila Anda tidak suka dan marah pada kejujuran mereka, sulit bagi mereka untuk dapat mengerti reaksi Anda. Jangan lupa, pendapat yang mereka berikan memang merupakan pendapat yang bukan ditujukan kepada pribadi karena pada dasarnya mereka tidak bermaksud untuk menyerang secara pribadi.
Perbedaaan 8 : Mengajukan Pertanyaan
Pria jarang mengajukan pertanyaan. Dan bila mereka bertanya, biasanya untuk mendapatkan informasi. Wanita sering mengajukan pertanyaan tetapi untuk dua alasan, yaitu untuk memperoleh informasi dan untuk menjaga jalinan suatu hubungan. Itulah sebabnya wanita sering mengajukan pertanyaan yang sebetulnya jawabannya telah mereka ketahui.
Perbedaan 9: Cara Menelepon
Pada umumnya pria berbicara lebih singkat di telepon. Sebaliknya, wanita senang mengobrol.
Nah, sekarang Anda sudah memahami perbedaannya, bukan? Tapi jangan lupa, hal itu tak berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Wajar saja bila pria bersikap lebih terus terang. sedangkan wanita lebih peka serta cenderung lebih memerhatikan pentingnya sebuah hubungan. Perbedaan gaya yang dimiliki pria dan wanita justru akan dapat saling mengisi sehingga terjalin kerja sama yang lebih baik dengan adanya keterbukaan dan pengertian kedua belah pihak.
Semakin Optimis, Otak Semakin Cerah Oktober 19, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
DAERAH yang jauh di belakang mata itu menjadi aktif ketika orang berpikir mengenai hal baik yang terjadi di masa depan. Semakin optimis seseorang, area itu semakin cerah. Itu tampak dalam pemindaian otak sebagaimana dilaporkan ilmuwan dalam studi kecil yang dipublikasi secara online di The Journal Nature.
Bagian sama dari otak yang disebut rostral anterior cingulate cortex (rACC) kelihatan mengalami gangguan ketika orang depresi, demikian kata Elizabeth Phelps dari New York University dan Tali Sharot of University College London yang ikut dalam penelitian itu.
Para ahli dalam penelitian itu melakukan pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) terhadap 15 orang ketika mereka sedang memikirkan kemungkinan di masa depan. Ketika partisipan memikirkan soal kejadian baik, baik rACC maupun amigdala yang terlibat dalam respon emosi dan ketakutan diaktifkan. Namun, korelasi dengan optimisme terbesar ada pada cingulate cortex.
“Studi yang sama juga menemukan bahwa orang cenderung berpikir bahwa kejadian bahagia sudah dekat dan terlihat lebih jelas dibandingkan kejadian jelek, bahkan ketika mereka tak punya alasan untuk mempercayainya,” sebut Phelps. Psikolog sudah lama menyebut itu sebagai bias optimisme, tetapi studi terbaru memberikan detail-detail baru.
Ketika para peneliti meminta subjek untuk berpikir mengenai 80 kejadian berbeda di masa depan yang mungkin baik, buruk atau netral, mereka kesulitan berpikir negatif atau bahkan netral mengenai masa depan.
“Contohnya, ketika diminta memikirkan potongan rambut di masa depan, orang membayangkan potongan rambut terbaik dalam hidup mereka, bukannya potongan rambut biasa,” kata Phelps.
“Studi itu dinilai masuk akal dan menarik bersama-sama bagian baru dan berbeda dari riset soal optimisme dan otak,” kata Dan Schacter, profesor psikologi dari Harvard University yang tak tergabung dalam penelitian itu.
Sebenarnya membiarkan otak untuk berpikir optimis itu merupakan hal baik. “Sebab jika Anda pesimis mengenai masa depan, Anda tak akan termotivasi melakukan tindakan,” kata Phelps. (kompas.com)
Harapan, Realistis Dan Fleksibel Oktober 19, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
Rabu, 6 Agustus 2008 memberitakan kisah menyedihkan tentang seorang mantan calon bupati Ponorogo yang menderita tekanan psikologis berat akibat gagal menjadi bupati. Tokoh masyarakat yang terhormat ini kemudian kehilangan kendali atas dirinya, tampil setengah telanjang di depan umum, bahkan mencoba untuk bunuh diri. Karena perilakunya, tokoh ini kemudian dirawat di RSJ Lawang, Malang.
Mungkin banyak orang akan bertanya, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Mengapa orang yang dahulu tampaknya layak berada dalam posisi panutan masyarakat, sekarang berperilaku sangat tidak adaptif dan membahayakan dirinya sendiri?
Tokoh tersebut sebenarnya tidak sendiri. Tanpa kita sadari, saat ini, semakin banyak orang yang berpotensi berada dalam kondisi seperti itu. Bahkan mungkin justru kita sendiri. Kondisi seperti itu muncul umumnya oleh suatu alasan yang bisa dideskripsikan secara sederhana: “ketidakmampuan mengelola harapan”. Apakah sebenarnya harapan itu?
Sudah semenjak dahulu, banyak tokoh berbicara mengenai harapan dalam berbagai bahasa yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa harapan merupakan sesuatu yang sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa manusia yang sehat pasti mempunyai harapan, harapan yang terkait dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.
Harapan pada awalnya terletak di wilayah luar realita hidup kita, merujuk pada mimpi-mimpi kita mengenai segala hal. Alfred Adler (dalam Hall dan Lindzey. 2000) mengungkapkannya dengan istilah finalisme fiktif, yakni suatu tujuan yang seringkali bahkan tidak nyata. Masih menurut Adler, jika suatu saat harapan yang kita impikan tercapai, maka akan segera muncul harapan lain yang menunggu untuk diraih. Jadi akan selalu ada yang kita kejar dalam hidup ini.
Pembahasan tokoh lain yakni Carl Rogers (dalam Hall dan Lindzey. 2000) memberikan suatu titik yang lebih terang mengenai bagaimana kita menyikapi harapan. Harapan akan menjadikan kita sehat karena menjadi daya penggerak kehidupan kita namun dengan suatu persyaratan: realistis dan fleksibel.
Artinya harapan mengenai apa pun tidak semestinya berada terlalu jauh dari realita sehingga berpotensi bagi kita menimbulkan frustasi saat mencoba menggapainya. Harapan pun tidak boleh menjadi kaku dan harus selalu siap untuk diubah sesuai dengan perubahan realita yang dapat terjadi setiap saat, baik realita di laur diri kita maupun di dalam diri kita.
Yang memprihatinkan saat ini adalah adanya berbagai tawaran nilai misalnya dari berbagai media yang mengusung tema-tema yang mendorong semakin banyak orang membangun harapan yang tidak realistis. Orang seakan diindoktrinasi mengenai berbagai kemudahan bahkan keharusan untuk membangun harapan tertentu, harapan yang juga telah diprogramkan. Dorongan untuk memiliki berbagai barang, mengikuti banyak mode, dan menempati posisi-posisi tertentu berpotensi membius orang untuk semakin semakin menjauhi realita diri dan lingkungannya.
Oleh karenanya, kita kemudian mendengar banyak kasus yang sepertinya tidak masuk akal. Misalnya saja seperti kasus di atas, mantan calon bupati yang menjadi kehilangan kontrol. Orang menjadi semakin tidak terkendali, bahkan berperilaku agresif sehingga membahayakan diri dan orang lain. Sudah saatnya kita membangun budaya mental yang sehat dengan selalu memiliki harapan namun tetap mempertimbangkan realita dan disertai fleksibilitas dalam meraihnya..
Kompas.com (Penulis :Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi, Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma)
Kapan Memutuskan Menikah? Oktober 19, 2008
Posted by upay in Loveee melulu.add a comment
PERKAWINAN merupakan komitmen antara dua orang yang tidak boleh disalahgunakan. Pastikan Anda menikah untuk alasan yang tepat, bukan untuk alasan yang salah.
Rasanya tak ada salahnya Anda mengajukan tiga pertanyaan berikut pada diri sendiri sebelum memutuskan naik pelaminan.
1. Apakah Anda berdua saling cocok?
Di dalam sebuah perkawinan, definisi kecocokan agak sedikit berbeda dan artinya lebih dari hanya memiliki kesamaan hobi, gemar makanan yang sama, film dan musik yang sama, dan seterusnya. Cocok di dalam sebuah perkawinan adalah memiliki kemampuan beradaptasi untuk berubah.
Penting diingat, manusia secara tetap berubah dari hari ke hari dan akan terus demikian di dalam perkawinan. Pekerjaan, anak-anak, mertua, merupakan beberapa perubahan yang berlangsung di dalam perkawinan. Kuncinya adalah memiliki pandangan yang sama dan tahu bagaimana mengatasi hubungan Anda berdua bila memiliki pandangan yang berbeda.
2. Apakah Anda berdua saling percaya?
Perkawinan tanpa rasa saling percaya bisa ditebak merupakan perkawinan yang akan berakhir dengan perceraian. Memiliki kepercayaan dari pasangan, merupakan suatu keharusan di dalam suatu hubungan. Bila ada keragu-raguan antara satu dan lainnya, berarti tidak ada rasa percaya. Suatu hubungan tumbuh dari rasa saling percaya dan tidak dapat bertahan tanpa rasa saling percaya.
3. Adakah komunikasi?
Tidak adanya komunikasi dapat menghancurkan suatu hubungan. Komunikasi sangat penting di dalam suatu perkawinan. Orang yang menikah perlu berkomunikasi setiap saat. Berbicara hanya pada saat genting atau tidak berbicara sama sekali, hanya menyakiti hubungan tadi. Tidak adanya komunikasi juga membawa pernikahan kepada perceraian.
Pasangan yang bercerai pada umumnya mengeluh, pasangannya tidak pernah mendengar apa yang mereka katakan atau menghindari percakapan dengan mereka. Komunikasi penting di dalam suatu hubungan. Bila tidak pernah berkomunikasi, bagaimana Anda tahu bahwa Anda saling cocok dan saling percaya satu sama lain?
Nah, bila Anda dan pasangan dapat menjawab ketiga pertanyaan di atas secara jujur dan saling memberikan jawaban yang memuaskan satu sama lain, mungkin perkawinan merupakan ide yang baik bagi Anda berdua. Namun, bila salah satu faktor di atas tidak ada, menikah merupakan ide yang kurang tepat. Perkawinan antara dua orang manusia harus berlangsung hanya bila memiliki ketiga faktor di atas.
(kompas.com)