jump to navigation

Persaingan di Tempat Kerja Meningkat Juni 24, 2009

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

Persaingan di tempat kerja merupakan hal yang sehat dan bisa mendatangkan keuntungan bagi perusahaan khususnya di saat kondisi perekonomian sedang sulit seperti sekarang ini. Namun, para pemimpin HR harus awas terhadap kompetisi yang menjurus tidak sehat, yang bisa merusak semangat kerja, produktivitas dan menyulitkan usaha perusahaan untuk meretensi karyawan-karyawan terbaik. Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif OfficeTeam Dave Willmer yang baru saja melakuan survei yang menemukan bahwa hampir 46% perusahaan yakin, karyawan mereka lebih kompetitif dengan sesama rekan kerja di kantor dibandingkan dengan 10 tahun lalu. OfficeTeam adalah perusahaan staffing yang berkantor pusat di California, salah satu divisi dari Robert Half International. Mereka mensurvei 150 eksekutif senior di perusahaan-perusahaan di Amerika. “Lebih-lebih dalam setahun terakhir ini, persaingan antarkaryawan di kantor semakin tinggi,” tambah Willmer. Menurut dia, karyawan sering merasa khawatir atas pekerjaan mereka ketika mereka tidak cukup mendapatkan pengakuan. “Jika pengakuan diberikan atau tidak diberikan secara tidak fair, maka orang akan bersaing untuk mendapatkannya.” Persaingan antarkaryawan di tempat kerja juga meningkat ketika perusahaan tidak mengkomunikasikan dengan baik kondisi perusahaan dan masa depan karir para karyawan. “Ketika Anda tidak tahu, Anda akan bilang pada diri sendiri, saya harus melakukan apa pun yang saya bisa,” papar Willmer. Diingatkan, hal itu tidak sehat. Penulis buku Succeeding with Difficult Co-Workers, Joseph Koob berpendapat bahwa pertumbuhan kompetisi di tempat kerja juga ikut dipicu oleh tekanan dari atasan. “Jajaran eksekutif senior dan menengah kini memperpanjang jam kerja mereka dan meletakkan tekanan pada semua orang,” ujar dia. Pada saat yang bersamaan, sambung Koob, loyalitas terhadap perusahaan menurun dan karyawan yang bagus cenderung berpindah-pindah tempat kerja. Itu artinya, orang-orang yang benar-benar berkualitas bergentayangan di mana-mana, dan itu membuat para manajer dan lainnya khawatir dengan keamanan posisi mereka, yang pada gilirannya memicu persaingan yang lebih tinggi. Diingatkan, kompetisi antarkaryawan bisa menjadi sesuatu yang bagus jika mendorong orang untuk berbuat yang terbaik, tapi bisa menjadi tidak sehat ketika karyawan merasa tidak puas dan keluar dari perusahaan. “Itu merugikan organisasi,” kata dia. Lalu, bagaimana kompetisi itu masih sehat atau sudah mengarah tidak sehat? Koop menyarankan agar para pemimpin senantiasa “turun ke bawah” dan bicara dengan anak buah. Salah satu tanda, (kompetisi yang sudah menjadi tidak sehat) menurut Koop, “Orang saling mengeluhkan satu sama lain, saling tunjuk. Yang satu menyalahkan lainnya.” Senada dengan Dave Wilmmer, Koop mengisyaratkan, kuncinya ada pada pengakuan dan penghargaan. “Jika karyawan merasa diapresiasi, mereka cenderung tidak khawatir atas pekerjaan mereka dan engage dalam kompetisi yang sehat,” ujar dia. “Semua berawal dari bagaimana orang diperlakukan. Jika manajer berusaha memahami mereka, dan menghargai siapa mereka, maka competision is fine.” portalhr.com

Anak Muda Berbisnis Atasi Pengangguran Juni 24, 2009

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

Tingginya angka pengangguran sudah menjadi persoalan klasik dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Lebih-lebih, dengan terpaan krisis global belakangan ini, dipastikan jumlah orang yang menganggur akan bertambah. Salah satu solusinya terletak pada para lulusan baru yang diharapkan mencoba membangun usaha sendiri.

Demikian antara lain benang merah yang bisa ditarik dari sambutan yang diberikan oleh Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga Sudradjat Rasyid dalam acara jumpa pers untuk pergelaran Shell Livewire Business Start-up Awards 2009 di Jakarta akhir pekan lalu.

“Kebiasaan sarjana-sarjana kita seusai lulus adalah mengirimkan sebanyak mungkin lamaran pekerjaan. Ini masalah yang selalu akan timbul jika tak ada solusi,” ujar dia.

Disesalkan bahwa banyak generasi muda dari daerah yang datang ke perkotaan karena mengaku kesulitan modal dan minimnya keahlian untuk mengelola usaha sendiri di daerahnya. Padahal, banyak sekali potensi daerah yang dapat dikembangkan sebagai bisnis baru.

Menurut Sudradjat mengatakan, sebenarnya banyak kesempatan yang dibangun oleh institusi pemerintahan maupun perusahaan untuk memfasilitasi kreaitivitas anak muda di daerah untuk berencana membangun bisnis sendiri. Diungkapkan, Kementerian Pemuda dan Olahraga sendiri mengembangkan sejumlah program untuk menggerakkan ekonomi berbasis lokal, seperti pendidikan kader kewirausahaan pemuda dan pembangunan sentra-sentra usaha pemuda.

“Tujuannya agar pemuda-pemuda di desa tidak pergi ke kota dan mengembangkan ekonomi pedesaan serta menarik kembali pemuda-pemuda dari kota untuk kembali ke desa,” tutur Sudradjat.

Dia mengutip data dari pengembangan usaha pemuda di Majalengka pada 2007-2008, ada sekitar 450 anak muda yang mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diadakan Menpora, hingga akhirnya tercipta 2.700 usaha.

Tahun ini, Menpora menyiapkan anggaran Rp 30 miliar untuk mengembangkan bisnis generasi muda di Indonesia sebagai antisipasi tingginya angka pengangguran, melalui fokus desa pertanian di Indonesia bagian barat serta desa pantai di bagian tengah dan timur.

Banyak Peluang

Vice President Director of Business Development PT Shell Indonesia Wally Saleh mengatakan, sebenarnya banyak peluang bisnis yang bisa diintip oleh generasi muda dan kreativitas untuk mengembangkannya harus terus diadu untuk dapat terus berkembang. “Ini akan sangat menunjang masalah-masalah nasional, seperti lapangan kerja yang biasanya sangat terbatas,” ujar dia.

Shell Indonesia bekerja sama dengan Menpora menggelar Shell Livewire Business Start-up Awards 2009 untuk mencari wirausaha muda pemula dengan rentang umur 18-32 tahun yang berpotensi untuk dikembangkan bisnisnya. Gelaran tersebut akan mengadu ide-ide bisnis yang cemerlang yang diajukan oleh peserta.