jump to navigation

Sukses Wawancara dengan Jawaban Taktis September 9, 2009

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

Surat lamaran kerja yang optimis tidak selalu menunjukkan bahwa orangnya juga seoptimis apa yang dibeberkannya dalam berkas-berkas itu. Begitu pewawancara menanyakan hal yang sederhana saja, seperti “Ceritakan diri Anda dalam beberapa kalimat,” banyak pelamar yang tergagap-gagap. Yang sering terjadi, bukannya memberikan jawaban sesuai yang diminta, melainkan justru merendahkan dengan mengatakan, “Ah, saya orangnya biasa-biasa saja.”

Selama ini memang banyak tips-tips konvensional yang menyarankan agar orang sebaiknya merendahkan diri ketika menghadapi wawancara kerja, sebagai upaya untuk mencuri simpati pewawancara. Tapi, zaman sudah berubah. Jawaban yang terlalu merendah dan banyak basi-basi hanya menunjukkan bahwa Anda sebenarnya tidak yakin dengan diri Anda. Perusahaan masa kini tidak membutuhkan karyawan seperti itu.

Yang diperlukan sekarang adalah jawaban yang taktis, yang menunjukkan siapa diri Anda dan layakkah Anda bergabung dengan perusahaan yang sedang Anda lamar. Ini contoh jawaban yang taktis, ketika Anda diminta menceritakan diri Anda.

“Saya Rina, anak pertama dari lima bersaudara. Sejak SMA, saya aktif di koran sekolah. Di situ saya menulis, mewawancarai orang-orang di sekitar saya dan berhubungan dengan mereka. Dari situ saya sadar alangkah menariknya bisa bertemu dengan orang banyak, berdiskusi dan mengetahui banyak hal dari mereka. Saya juga senang musik, membaca dan traveling. Ketika kuliah, saya sering menulis pengalaman jalan-jalan saya, atau sekedar memberi referensi kaset yang sedang laris untuk koran kampus saya.”

Meskipun bukan jawaban yang berbunga-bunga, tapi si pewawancara telah menunjukkan bahwa dirinya terbuka, ramah dan punya rasa ingin tahu yang besar. Dengan kata lain, itu jawaban yang cukup cerdas dan efektif untuk menggambarkan bagaimana yang bersangkutan menyatakan secara implisit bahwa dirinya merasa layak ditempatkan pada posisi yang diincarnya. Pewawancara butuh jawaban seperti itu –cukup singkat, tapi menunjukkan optimisme yang tak dibuat-buat.

Kesimpulannya, kalau Anda dipanggil untuk wawancara, sebisanya persiapkan diri dengan baik. Rasa percaya diri dan menunjukkan bahwa Anda menjadi diri sendiri adalah yang terpenting. Pewawancara tidak butuh jawaban yang berbunga-bunga, berapi-api apalagi munafik. Pada kesempatan pertama, mereka biasanya ingin melihat bagaimana si pelamar menghargai diri sendiri. Buatlah beberapa poin tentang kemahiran Anda serta hal-hal yang Anda sukai dan inginkan untuk masa depan Anda. Setelah menemukan poin -poin itu, berlatihlah mengemukakannya dalam sebuah jawaban singkat yang cerdas dan optimis.

Persaingan di Tempat Kerja Meningkat Juni 24, 2009

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

Persaingan di tempat kerja merupakan hal yang sehat dan bisa mendatangkan keuntungan bagi perusahaan khususnya di saat kondisi perekonomian sedang sulit seperti sekarang ini. Namun, para pemimpin HR harus awas terhadap kompetisi yang menjurus tidak sehat, yang bisa merusak semangat kerja, produktivitas dan menyulitkan usaha perusahaan untuk meretensi karyawan-karyawan terbaik. Demikian diungkapkan oleh Direktur Eksekutif OfficeTeam Dave Willmer yang baru saja melakuan survei yang menemukan bahwa hampir 46% perusahaan yakin, karyawan mereka lebih kompetitif dengan sesama rekan kerja di kantor dibandingkan dengan 10 tahun lalu. OfficeTeam adalah perusahaan staffing yang berkantor pusat di California, salah satu divisi dari Robert Half International. Mereka mensurvei 150 eksekutif senior di perusahaan-perusahaan di Amerika. “Lebih-lebih dalam setahun terakhir ini, persaingan antarkaryawan di kantor semakin tinggi,” tambah Willmer. Menurut dia, karyawan sering merasa khawatir atas pekerjaan mereka ketika mereka tidak cukup mendapatkan pengakuan. “Jika pengakuan diberikan atau tidak diberikan secara tidak fair, maka orang akan bersaing untuk mendapatkannya.” Persaingan antarkaryawan di tempat kerja juga meningkat ketika perusahaan tidak mengkomunikasikan dengan baik kondisi perusahaan dan masa depan karir para karyawan. “Ketika Anda tidak tahu, Anda akan bilang pada diri sendiri, saya harus melakukan apa pun yang saya bisa,” papar Willmer. Diingatkan, hal itu tidak sehat. Penulis buku Succeeding with Difficult Co-Workers, Joseph Koob berpendapat bahwa pertumbuhan kompetisi di tempat kerja juga ikut dipicu oleh tekanan dari atasan. “Jajaran eksekutif senior dan menengah kini memperpanjang jam kerja mereka dan meletakkan tekanan pada semua orang,” ujar dia. Pada saat yang bersamaan, sambung Koob, loyalitas terhadap perusahaan menurun dan karyawan yang bagus cenderung berpindah-pindah tempat kerja. Itu artinya, orang-orang yang benar-benar berkualitas bergentayangan di mana-mana, dan itu membuat para manajer dan lainnya khawatir dengan keamanan posisi mereka, yang pada gilirannya memicu persaingan yang lebih tinggi. Diingatkan, kompetisi antarkaryawan bisa menjadi sesuatu yang bagus jika mendorong orang untuk berbuat yang terbaik, tapi bisa menjadi tidak sehat ketika karyawan merasa tidak puas dan keluar dari perusahaan. “Itu merugikan organisasi,” kata dia. Lalu, bagaimana kompetisi itu masih sehat atau sudah mengarah tidak sehat? Koop menyarankan agar para pemimpin senantiasa “turun ke bawah” dan bicara dengan anak buah. Salah satu tanda, (kompetisi yang sudah menjadi tidak sehat) menurut Koop, “Orang saling mengeluhkan satu sama lain, saling tunjuk. Yang satu menyalahkan lainnya.” Senada dengan Dave Wilmmer, Koop mengisyaratkan, kuncinya ada pada pengakuan dan penghargaan. “Jika karyawan merasa diapresiasi, mereka cenderung tidak khawatir atas pekerjaan mereka dan engage dalam kompetisi yang sehat,” ujar dia. “Semua berawal dari bagaimana orang diperlakukan. Jika manajer berusaha memahami mereka, dan menghargai siapa mereka, maka competision is fine.” portalhr.com

Anak Muda Berbisnis Atasi Pengangguran Juni 24, 2009

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

Tingginya angka pengangguran sudah menjadi persoalan klasik dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Lebih-lebih, dengan terpaan krisis global belakangan ini, dipastikan jumlah orang yang menganggur akan bertambah. Salah satu solusinya terletak pada para lulusan baru yang diharapkan mencoba membangun usaha sendiri.

Demikian antara lain benang merah yang bisa ditarik dari sambutan yang diberikan oleh Deputi Bidang Kewirausahaan Pemuda dan Industri Olahraga Sudradjat Rasyid dalam acara jumpa pers untuk pergelaran Shell Livewire Business Start-up Awards 2009 di Jakarta akhir pekan lalu.

“Kebiasaan sarjana-sarjana kita seusai lulus adalah mengirimkan sebanyak mungkin lamaran pekerjaan. Ini masalah yang selalu akan timbul jika tak ada solusi,” ujar dia.

Disesalkan bahwa banyak generasi muda dari daerah yang datang ke perkotaan karena mengaku kesulitan modal dan minimnya keahlian untuk mengelola usaha sendiri di daerahnya. Padahal, banyak sekali potensi daerah yang dapat dikembangkan sebagai bisnis baru.

Menurut Sudradjat mengatakan, sebenarnya banyak kesempatan yang dibangun oleh institusi pemerintahan maupun perusahaan untuk memfasilitasi kreaitivitas anak muda di daerah untuk berencana membangun bisnis sendiri. Diungkapkan, Kementerian Pemuda dan Olahraga sendiri mengembangkan sejumlah program untuk menggerakkan ekonomi berbasis lokal, seperti pendidikan kader kewirausahaan pemuda dan pembangunan sentra-sentra usaha pemuda.

“Tujuannya agar pemuda-pemuda di desa tidak pergi ke kota dan mengembangkan ekonomi pedesaan serta menarik kembali pemuda-pemuda dari kota untuk kembali ke desa,” tutur Sudradjat.

Dia mengutip data dari pengembangan usaha pemuda di Majalengka pada 2007-2008, ada sekitar 450 anak muda yang mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diadakan Menpora, hingga akhirnya tercipta 2.700 usaha.

Tahun ini, Menpora menyiapkan anggaran Rp 30 miliar untuk mengembangkan bisnis generasi muda di Indonesia sebagai antisipasi tingginya angka pengangguran, melalui fokus desa pertanian di Indonesia bagian barat serta desa pantai di bagian tengah dan timur.

Banyak Peluang

Vice President Director of Business Development PT Shell Indonesia Wally Saleh mengatakan, sebenarnya banyak peluang bisnis yang bisa diintip oleh generasi muda dan kreativitas untuk mengembangkannya harus terus diadu untuk dapat terus berkembang. “Ini akan sangat menunjang masalah-masalah nasional, seperti lapangan kerja yang biasanya sangat terbatas,” ujar dia.

Shell Indonesia bekerja sama dengan Menpora menggelar Shell Livewire Business Start-up Awards 2009 untuk mencari wirausaha muda pemula dengan rentang umur 18-32 tahun yang berpotensi untuk dikembangkan bisnisnya. Gelaran tersebut akan mengadu ide-ide bisnis yang cemerlang yang diajukan oleh peserta.

Perbedaan Pria dan Wanita di Dunia Kerja Oktober 19, 2008

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

SANGAT menyenangkan bila kita dapat bekerja sama dengan rekan sekerja pria. Perbedaan antara pria dan wanita, terutama dalam bidang komunikasi, sering membuat kita tertawa dan menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan di tempat kerja. Hal ini juga membantu para wanita agar lebih mengerti dan menghargai bagaimana Tuhan menciptakan kaum pria.

Yang jelas, pendapat berikut bukan untuk menyamaratakan perbedaan antara pria dan wanita. Namun, walau bagaimanapun, selalu ada pengecualian yang didasarkan pada jender. Secara umum, perbedaan antara pria dan wanita di dunia kerja adalah sebagai berikut:

Perbedaan 1: Cara Berpikir
Pola pikir pria cenderung didasari pada fakta, sementara wanita cenderung pada konsep dan jalinan hubungan. Semangat wanita sama halnya dengan sistem kereta api bawah tanah, yaitu saling berhubungan, sedangkan semangat pria seperti kapal di atas lautan yang berlayar dari titik A menuju titik B.

Perbedaan 2: Cara Memerintah
Pria cenderung lebih tegas, sementara wanita lebih halus tetapi dengan penekanan di akhir kalimat. Di satu sisi mereka berusaha mempertahankan keharmonisan, tetapi di sisi lain mereka memberi penekanan seperti kata-kata yang diucapkan di akhir kalimat seperti, “Kamu bisa, kan?”

Perbedaan 3: Pemilahan
Pria dapat bekerja sama dengan orang yang tidak disukainya. Wanita pada umumnya sulit untuk dapat bekerja sama dengan orang yang tidak disukainya. Hal ini dikarenakan pria dapat memilah-milah, “Pekerjaan, ya, pekerjaan.” Sebaliknya, wanita dalam melakukan sesuatu selalu menghubungkan hal satu dan lainnya. Contohnya, bisa saja terjadi mereka tidak dapat bekerja dengan si X yang sering bercanda dengan cara tidak sopan.

Perbedaan 4: Mengekspresikan Perasaan
Bila seorang pria ingin mengutarakan perasaannya, mereka akan membicarakannya kepada istri atau kekasihnya. Paling tidak, pada orang terdekatnya. Sementara wanita dapat mengutarakan perasaannya kepada siapa saja, tidak selalu kepada orang yang dekat dengannya, baik kepada teman sekerja ataupun kepada sesama wanita yang sama-sama sedang mengantre di kasir. Bahkan kepada dokter dan tukang potong rambut pun mereka bisa bercerita dengan bebas.

Perbedaan 5: Pendekatan Saat Ada Masalah
Saat menghadapi masalah, pria akan berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Bagi wanita, tidak cukup hanya dengan memikirkan permasalahan yang dihadapi. Wanita memerlukan seseorang untuk mendengarkan keluhannya walaupun orang tersebut tidak selalu harus memberi solusi. Pria memerlukan solusi. Pria senang memecahkan permasalahan, tidak hanya membicarakannya.

Perbedaan 6: Tujuan
Baik pria maupun wanita ingin mencapai tujuannya, tetapi masing-masing punya cara yang berbeda. Pria cenderung memfokuskan hasil akhir dan tertarik pada cara pencapaian usaha. Wanita lebih memfokuskan pada pencapaian sasaran dan cenderung untuk mempertimbangkan penilaian orang lain. Bila di dalam suatu rapat terdapat dua orang pria yang saling berdebat dengan serunya, maka hal itu tidak berarti mereka saling membenci.

Perbedaan 7: Komentar
Pria dapat memberikan komentar secara terus terang dan memotong pembicaraan orang lain bila ingin berkomentar, sementara wanita cenderung lebih peka dan berhati-hati. Oleh karena itu, bila Anda meminta pendapat kepada rekan pria, mereka akan langsung memberikan pendapatnya. Bila Anda tidak suka dan marah pada kejujuran mereka, sulit bagi mereka untuk dapat mengerti reaksi Anda. Jangan lupa, pendapat yang mereka berikan memang merupakan pendapat yang bukan ditujukan kepada pribadi karena pada dasarnya mereka tidak bermaksud untuk menyerang secara pribadi.

Perbedaaan 8 : Mengajukan Pertanyaan
Pria jarang mengajukan pertanyaan. Dan bila mereka bertanya, biasanya untuk mendapatkan informasi. Wanita sering mengajukan pertanyaan tetapi untuk dua alasan, yaitu untuk memperoleh informasi dan untuk menjaga jalinan suatu hubungan. Itulah sebabnya wanita sering mengajukan pertanyaan yang sebetulnya jawabannya telah mereka ketahui.

Perbedaan 9: Cara Menelepon
Pada umumnya pria berbicara lebih singkat di telepon. Sebaliknya, wanita senang mengobrol.

Nah, sekarang Anda sudah memahami perbedaannya, bukan? Tapi jangan lupa, hal itu tak berarti yang satu lebih baik dari yang lain. Wajar saja bila pria bersikap lebih terus terang. sedangkan wanita lebih peka serta cenderung lebih memerhatikan pentingnya sebuah hubungan. Perbedaan gaya yang dimiliki pria dan wanita justru akan dapat saling mengisi sehingga terjalin kerja sama yang lebih baik dengan adanya keterbukaan dan pengertian kedua belah pihak.

Timbang Masak-masak Sebelum Teken Kontrak Oktober 19, 2008

Posted by upay in Dunia Kerja.
add a comment

Bagi mereka yang baru lulus dari universitas, dunia kerja boleh jadi merupakan babak awal di mana hidup seolah-olah memasuki “dunia nyata”. Oleh karenanya, sungguh penting bagi para lulusan yang sedang mendapatkan pekerjaan pertama untuk memperhatikan banyak hal sebelum menandatangani kontrak alias menerima pekerjaan itu.

Saran untuk membuat pertimbangan masak-masak sebelum meneken kontrak tentu tidak hanya berlaku bagi lulusan baru yang pertama kali memasuki dunia kerja. Bagi mereka yang mendapat tawaran kerja baru dari perusahaan lain, atau pindah ke tempat kerja baru untuk memulai karir yang baru, tetap penting untuk memperhatikan hal-hal berikut ini:

1. Pertimbangkan harapan-harapan yang realistik terhadap gaji. Jika ini kontrak kerja pertama Anda, maka sebaiknya Anda sudah punya gambaran mengenai gaji lulusan baru untuk industri yang bersangkutan, sehingga permintaan Anda sesuai proporsi. Jika kasusnya adalah Anda sedang pindah kerja untuk memulai karir baru, jangan serta-merta berasumsi bahwa Anda “berhak” atas gaji yang berlipat-lipat. Kembalikan ke tujuan utama Anda pindah kerja, di samping juga pertimbangkan kondisi perusahaan

2. Perhatikan paket(-pake) benefit yang ditawarkan. Ingat bahwa gaji Anda hanyalah salah satu komponen dari sebuah paket yang disediakan perusahaan. Jangan sungkan untuk menanyakan, apa saja benefit lain yang ditawarkan, dan bandingkan lebih baik mana dengan yang Anda terima di perusahaan sebelumnya.

3. Ingatlah sejak awal bahwa kepuasan kerja merupakan sesuatu yang lebih penting dibandingkan dengan berapa rupiah yang bisa Anda bawa pulang. Ini sering dilupakan oleh para pencari kerja pertama maupun mereka yang pindah kerja. Berapa pun gaji dan bonus yang Anda terima, kalau Anda membenci pekerjaan Anda, maka Anda tidak akan bahagia.

4. Ambilah keputusan berdasarkan situasi dan kondisi yang “nyata”, dan bukan berdasar “bagaimana seandainya”. Jangan khawatir apa yang akan terjadi jika semua itu menuntur ke jalan sukses bagi pekerjaan baru Anda. Yang penting, apa yang bisa Anda lakukan sekarang.

5. Ingatlah bahwa mencari pekerjaan adalah (bagian dari) keseluruhan pekerjaan itu sendiri. Jika Anda sedang ingin melakukan perubahan, Anda perlu sebuah pendekatan yang melihat perubahan itu seperti sebuah proyek pekerjaan. Rencanakan segala sesuatunya agar berjalan sesuai keinginan.

portalhr.com