7 Kesepakatan Sebelum Ikat Janji Desember 17, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
Ada segudang masalah yang harus disepakati sebelum memutuskan untuk sehidup semati. Misalnya, tinggal serumah dengan mertua, atau rumah sendiri? Istri boleh bekerja, atau di rumah? Kenali komitmen yang harus disepakati sebelum janur melengkung.
Menurut Johanes Papu, Msi, psikolog, idealnya pasangan suami-istri menentukan komitmen atau kesepakatan sebelum mereka menikah. Beberapa komitmen yang perlu dibicarakan antara lain:
1. Siapa bendaharanya?
Yang penting adalah transparansi antara Anda dan pasangan. Kedua belah pihak sama-sama tahu penghasilan masing-masing, dan yang terpenting, bagaimana memaksimalkan dan mengatur uang tersebut.
“Siapa yang memegang uang, bukan hal utama. Fleksibel saja. Apalagi sekarang ada joint account atau tabungan bersama di mana suami-istri bisa sama-sama memantau,” ujar Johanes.
Jika keuangan dipegang istri, apakah suami harus menyerahkan semua gajinya? Menurut Johanes, konsep ini tidak selalu tepat, karena ada istri yang tak bisa me-manage uang. Selain itu, jika Anda tinggal di kota besar seperti Jakarta, konsep suami menyerahkan 100% gaji pada istri juga “merepotkan”. Sebab, suami yang mobile atau bekerja, akan membutuhkan uang, semisal untuk beli bensin. Jika semua diserahkan ke istri dan tiap hari minta ke istri, repot.
Sebelum menyerahkan gaji ke istri, suami sebaiknya menentukan berapa anggaran per bulan, misalnya kebutuhan bensin dan hiburan (seperti beli buku untuk dirinya sendiri). Yang perlu diserahkan adalah yang menyangkut kebutuhan bersama.
Jadi, harus pintar-pintar mengatur supaya satu sama lain tidak begitu tergantung. Sangat perlu bikin anggaran keuangan bulanan yang jelas, mulai dari biaya listrik, telepon, air, makan, pendidikan anak, kesehatan, rekreasi, tabungan, dan hal lain yang tak terduga.
2. Tinggal di mana?
Tak jarang, lantaran belum punya tempat tinggal sendiri, pasangan suami-istri masih tinggal di rumah orangtua atau mertua. Selain itu, dalam kultur masyarakat Indonesia, kadang orangtua tak ingin anaknya meninggalkan rumah. Jadi, lebih enak tinggal di rumah sendiri atau mertua?
Menurut Johanes, idealnya dalam satu rumah ada satu keluarga dengan satu kepala keluarga. Jika satu rumah ada lebih dari satu kepala keluarga, sudah tidak sehat. Jika tinggal di rumah sendiri, Anda dan pasangan punya kemandirian untuk mengatur rumah tangga, mulai dari mengatur keuangan, tata letak rumah, hingga kondisi rumah. Anda juga memiliki kebebasan secara individual.
Sebaliknya, berikut hal-hal yang mungkin terjadi jika tinggal dengan mertua :
- Tidak memiliki keleluasaan untuk melakukan “eksperimen” sendiri, seperti mengatur rumah karena harus tergantung pada si empunya rumah, yaitu mertua.
- Perlu penyesuaian. Jika belum begitu lama mengenal mertua, proses penyesuaian mungkin akan terbentur ke sana kemari dan bisa jadi akan menimbulkan gesekan antara Anda dengan pasangan atau Anda dengan mertua.
- Perlu membatasi dan menguasai diri untuk bisa cocok dengan mertua.
- Dalam segi keuangan, biasanya jika anak masih bekerja sedangkan orangtua tidak, anak lebih banyak mendukung orang tua. Begitu juga sebaliknya. Jika orangtuanya sangat mapan dan anaknya belum, orangtua yang lebih men-support anak.
Untuk keuangan, suami-istri bisa sepakat berbagi dengan orangtua atau mertua. Semisal disepakati masalah kebutuhan dapur ditangani orangtua, sementara Anda dan pasangan menangani listrik dan telepon. “Jadi, perlu ada garis jelas mana yang boleh dan mana yang tidak. Mana yang harus ditangani anak dan mana orangtua. Jangan sampai berkesan, anak menguasai orangtua dan sebaliknya,” jelas Johanes.
3. Berani berkata “tidak”
Dalam kultur Indonesia, campur tangan orangtua dalam kehidupan rumah tangga anak masih tinggi. Sejauh mana peran orangtua terhadap pasangan Anda, harus dikenali dalam masa pacaran.
Jangan sampai, setelah menikah pasangan tak bisa lepas dari orangtua, dalam arti “anak mami” atau “anak papi”. Contohnya, beli mobil saja pasangan harus bertanya ke orangtua, sedangkan Anda malah tak dimintai pendapat.
Pasangan akan merasa tak dihargai. Padahal, dalam pernikahan, pasangan adalah orang yang dimintai saran, bukan orang lain. Banyak pasangan terjebak dalam hal ini.”
Agar tidak terjadi, sebisa mungkin tidak sedikit-sedikit lari ke orangtua. Tanpa bermaksud menyakiti hati orangtua, berusaha dan berani mengambil keputusan sendiri. Jika selalu tergantung pada orangtua, lama-kelamaan kita tidak punya identitas diri. Jadi, pelan-pelan harus berani berkata “tidak” untuk sesuatu yang kita yakini benar. Dan harus bersama pasangan, jangan hanya satu pihak.
4. Batasi “hobi”
Anda suka nongkrong bareng teman sepulang kantor? Nah, setelah menikah, sebaiknya batasi frekuensi acara nongkrong bareng teman. Intinya, hindari melakukan kebiasaan-kebiasaan yang tidak mendukung kehidupan suami-istri.
5. Alokasi keuangan
Beli mobil atau furnitur? Keputusan membeli mobil, misalnya, untuk suami-istri yang kondisi keuangannya pas-pasan, harus dibicarakan benar-benar. Jangan sampai salah satu pihak nantinya tidak puas. Intinya, modal atau harta yang merupakan hasil kerja bersama, harus disepakati bersama. Hal ini juga berlaku untuk harta yang merupakan hasil keringat sebelum menikah.
6. Punya anak atau tidak?
Hal ini mesti dibahas sebelum menikah. Jangan sampai setelah menikah Anda ingin punya anak, sedangkan pasangan Anda tidak. Jika memang ingin punya anak, sebaiknya pasangan suami-istri melakukan tes kesehatan pranikah.
7. Istri bekerja atau jadi ibu rumah tangga?
Hal ini berhubungan dengan kondisi ekonomi. Jika sebelum menikah Anda dan pasangan sudah bekerja dan setelah menikah suami tetap menginginkan Anda bekerja, Anda perlu pintar membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga. Apalagi jika kelak punya anak. Kendati demikian, mengurus rumah tangga dan anak tidak dibebankan 100 persen pada istri. Idealnya, rumah tangga dan anak bisa dikerjakan berdua.
Semakin Optimis, Otak Semakin Cerah Oktober 19, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
DAERAH yang jauh di belakang mata itu menjadi aktif ketika orang berpikir mengenai hal baik yang terjadi di masa depan. Semakin optimis seseorang, area itu semakin cerah. Itu tampak dalam pemindaian otak sebagaimana dilaporkan ilmuwan dalam studi kecil yang dipublikasi secara online di The Journal Nature.
Bagian sama dari otak yang disebut rostral anterior cingulate cortex (rACC) kelihatan mengalami gangguan ketika orang depresi, demikian kata Elizabeth Phelps dari New York University dan Tali Sharot of University College London yang ikut dalam penelitian itu.
Para ahli dalam penelitian itu melakukan pemindaian MRI (Magnetic Resonance Imaging) terhadap 15 orang ketika mereka sedang memikirkan kemungkinan di masa depan. Ketika partisipan memikirkan soal kejadian baik, baik rACC maupun amigdala yang terlibat dalam respon emosi dan ketakutan diaktifkan. Namun, korelasi dengan optimisme terbesar ada pada cingulate cortex.
“Studi yang sama juga menemukan bahwa orang cenderung berpikir bahwa kejadian bahagia sudah dekat dan terlihat lebih jelas dibandingkan kejadian jelek, bahkan ketika mereka tak punya alasan untuk mempercayainya,” sebut Phelps. Psikolog sudah lama menyebut itu sebagai bias optimisme, tetapi studi terbaru memberikan detail-detail baru.
Ketika para peneliti meminta subjek untuk berpikir mengenai 80 kejadian berbeda di masa depan yang mungkin baik, buruk atau netral, mereka kesulitan berpikir negatif atau bahkan netral mengenai masa depan.
“Contohnya, ketika diminta memikirkan potongan rambut di masa depan, orang membayangkan potongan rambut terbaik dalam hidup mereka, bukannya potongan rambut biasa,” kata Phelps.
“Studi itu dinilai masuk akal dan menarik bersama-sama bagian baru dan berbeda dari riset soal optimisme dan otak,” kata Dan Schacter, profesor psikologi dari Harvard University yang tak tergabung dalam penelitian itu.
Sebenarnya membiarkan otak untuk berpikir optimis itu merupakan hal baik. “Sebab jika Anda pesimis mengenai masa depan, Anda tak akan termotivasi melakukan tindakan,” kata Phelps. (kompas.com)
Harapan, Realistis Dan Fleksibel Oktober 19, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
Rabu, 6 Agustus 2008 memberitakan kisah menyedihkan tentang seorang mantan calon bupati Ponorogo yang menderita tekanan psikologis berat akibat gagal menjadi bupati. Tokoh masyarakat yang terhormat ini kemudian kehilangan kendali atas dirinya, tampil setengah telanjang di depan umum, bahkan mencoba untuk bunuh diri. Karena perilakunya, tokoh ini kemudian dirawat di RSJ Lawang, Malang.
Mungkin banyak orang akan bertanya, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Mengapa orang yang dahulu tampaknya layak berada dalam posisi panutan masyarakat, sekarang berperilaku sangat tidak adaptif dan membahayakan dirinya sendiri?
Tokoh tersebut sebenarnya tidak sendiri. Tanpa kita sadari, saat ini, semakin banyak orang yang berpotensi berada dalam kondisi seperti itu. Bahkan mungkin justru kita sendiri. Kondisi seperti itu muncul umumnya oleh suatu alasan yang bisa dideskripsikan secara sederhana: “ketidakmampuan mengelola harapan”. Apakah sebenarnya harapan itu?
Sudah semenjak dahulu, banyak tokoh berbicara mengenai harapan dalam berbagai bahasa yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa harapan merupakan sesuatu yang sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa manusia yang sehat pasti mempunyai harapan, harapan yang terkait dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.
Harapan pada awalnya terletak di wilayah luar realita hidup kita, merujuk pada mimpi-mimpi kita mengenai segala hal. Alfred Adler (dalam Hall dan Lindzey. 2000) mengungkapkannya dengan istilah finalisme fiktif, yakni suatu tujuan yang seringkali bahkan tidak nyata. Masih menurut Adler, jika suatu saat harapan yang kita impikan tercapai, maka akan segera muncul harapan lain yang menunggu untuk diraih. Jadi akan selalu ada yang kita kejar dalam hidup ini.
Pembahasan tokoh lain yakni Carl Rogers (dalam Hall dan Lindzey. 2000) memberikan suatu titik yang lebih terang mengenai bagaimana kita menyikapi harapan. Harapan akan menjadikan kita sehat karena menjadi daya penggerak kehidupan kita namun dengan suatu persyaratan: realistis dan fleksibel.
Artinya harapan mengenai apa pun tidak semestinya berada terlalu jauh dari realita sehingga berpotensi bagi kita menimbulkan frustasi saat mencoba menggapainya. Harapan pun tidak boleh menjadi kaku dan harus selalu siap untuk diubah sesuai dengan perubahan realita yang dapat terjadi setiap saat, baik realita di laur diri kita maupun di dalam diri kita.
Yang memprihatinkan saat ini adalah adanya berbagai tawaran nilai misalnya dari berbagai media yang mengusung tema-tema yang mendorong semakin banyak orang membangun harapan yang tidak realistis. Orang seakan diindoktrinasi mengenai berbagai kemudahan bahkan keharusan untuk membangun harapan tertentu, harapan yang juga telah diprogramkan. Dorongan untuk memiliki berbagai barang, mengikuti banyak mode, dan menempati posisi-posisi tertentu berpotensi membius orang untuk semakin semakin menjauhi realita diri dan lingkungannya.
Oleh karenanya, kita kemudian mendengar banyak kasus yang sepertinya tidak masuk akal. Misalnya saja seperti kasus di atas, mantan calon bupati yang menjadi kehilangan kontrol. Orang menjadi semakin tidak terkendali, bahkan berperilaku agresif sehingga membahayakan diri dan orang lain. Sudah saatnya kita membangun budaya mental yang sehat dengan selalu memiliki harapan namun tetap mempertimbangkan realita dan disertai fleksibilitas dalam meraihnya..
Kompas.com (Penulis :Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi, Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma)
7 hal yang disukai wanita Juni 13, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
Bercinta secara total boleh jadi adalah pengalaman puncak yang selalu dinantikan istri dari suami. Namun sebelum sampai ke situ, ada hal-hal kecil yang diharapkan wanita dari pria yang dicintainya. Simaklah beberapa di antaranya.
PUJIAN TULUS TAK TERDUGA
Wanita mana, sih, yang tidak senang dipuji? Bukan pujian seribu satu kata gombal, lho, tapi pujian kecil yang tak terduga. Kalau itu diucapkan di saat yang tepat, istri pasti akan tersenyum senang. Sampaikan pujian itu dengan kesungguhan, tatap matanya, bila perlu bisikkan di telinganya. Hindari pemberian pujian yang terdengar sangat basa-basi. Misalnya, Anda memujinya sambil terus konsentrasi di depan komputer. Itu hanya akan membuat pasangan Anda kesal.
TUBUH BERAROMA SEGAR
Badan yang segar karena selalu mandi, kuku yang terpotong rapi dan jambang yang selalu tercukur bersih, serta aroma fresh dari tubuh Anda, dijamin membuat pasangan Anda merasa nyaman. Walaupun di rumah Anda merasa lebih santai mengenakan sarung dan bertelanjang dada, tapi percayalah, pemandangan seperti itu tidak akan disukai pasangan. Sebaiknya kenakan celana pendek dan kaus yang pantas. Syukur-syukur bisa memperlihatkan kekencangan tubuh Anda berkat rajin berlatih di gym.
PANGGILAN SAYANG
Masih ingat apa panggilan sayang yang Anda berikan padanya saat masih pacaran? Cobalah untuk mengulanginya sekarang. Mungkin tidak Anda sadari, tapi kadang panggilan mama-papa terdengar sangat “tua” dan menjemukan. Kalau ternyata Anda belum mempunyai panggilan sayang untuknya, tak ada salahnya ciptakan mulai sekarang. Wanita akan merasa istimewa saat menyadari bahwa hanya Anda di dunia ini yang memanggilnya dengan sebutanitu. Sekaligus mengingatkan dia bahwa posisi Anda berbeda dengan orang lain.
SIKAP ROMANTIS
Anda tentu tahu pria Prancis lebih mudah menaklukkan hati wanita mana pun di dunia ini. Kemudahan itu mereka dapat karena sikap mereka yang tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan romantis.
Tak perlu menaruh sekeranjang gladiol yang mahal tiap hari di rumah, tapi cobalah beri dia setangkai mawar kecil saat Anda menjemputnya pulang kerja. Wanita akan merasa tersanjung dengan kejadian romantis semacam ini. Di akhir pekan, cobalah siapkan sarapan untuknya dan bawa ke kamar tidur. Bangunkan dia dengan sebuah kecupan lembut di dahinya, kemudian sodorkan segelas jus segar bikinan Anda. Apa yang Anda lakukan ini akan dirasa romantis olehnya.
SENTUHAN MESRA
Sepulang bekerja, wajar saja kalau Anda dan pasangan merasa sangat lelah. Tapi sebagai bukti cinta, Anda bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan untuknya. Setelah selesai mandi dan bersiap untuk tidur, ambil minyak zaitun atau body lotion yang harum, oleskan di tengkuknya dan pijat dengan perlahan. Biarkan pasangan Anda menikmati tiap sensasi yang tercipta dari sentuhan Anda. Sentuhan erotik di tempat tidur, itu memang dibutuhkan. Tapi tak hanya itu, wanita juga mendambakan belaian sayang. Hanya rasa sayang dan bukan nafsu. Belailah rambutnya saat duduk di dekat Anda, atau pegang tangannya saat dia menuruni tangga. Hal-hal seperti itu sangat disukai wanita.
BERJUANG UNTUKNYA
“Berjuanglah” untuk melakukan sesuatu yang menyenangkannya. Tidak harus mengalahkan ibu tiri seperti dalam dongeng Cinderella, tapi cukup sebuah tindakan kecil yang membuatnya mengerti bahwa Anda mengorbankan banyak hal untuk menyenangkannya. Misalnya, pasangan tahu kalau hari ini deadline pekerjaan Anda. Tiba-tiba, saat jam makan siang, Anda muncul di kantornya dan membawakan sebungkus mi ayam kesukaannya. Dia tahu persis, untuk membelinya Anda harus menembus kemacetan, sekaligus mengantarkannya ke kantor. Setelah itu Anda harus segera kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.
TIDAK TERBURU-BURU
To the point. Itu adalah kebiasaan pria yang oleh sebagian wanita ditangkap sebagai sikap terburu-buru. Cobalah sesekali ikuti iramanya. Begitupun ketika bercinta, wanita sangat menikmati pasangan yang mau mengerti dirinya. Ciumilah dengan perlahan tanpa ada satu bagian pun yang terlewatkan. Tanyakan padanya apa yang ingin Anda lakukan untuknya. Sesudah bercinta pun Anda jangan buru-buru mengakhirinya dengan tidur. Peluk dia, belai rambutnya, bisikkan bagaimana Anda sangat mencintainya. Pasti pasangan Anda ingin selalu mengulangi lagi kebersamaan seperti ini bersama Anda.
(Kompas.com)
Kepribadian Pria dilihat dari PonseL Juni 13, 2008
Posted by upay in Personality.add a comment
Gaya seseorang memperlakukan ponselnya dapat menunjukkan apakah ia orang yang bertanggung jawab, memegang komitmen, berhati-hati, penuh cinta atau pelit. Iseng-iseng coba perhatikan cara pria di sebelah Anda memegang ponselnya.
Menggenggam Dengan Tangan Kanan
Ia seorang yang rasional dan gentleman.
Ia seorang yang bisa memperlakukan Anda sebagai perempuan yang paling beruntung di dunia. Ketegasan yang diperlihatkan dengan caranya menggenggam ponsel tanpa ragu-ragu. Mantap. Kalau sudah menginginkan sesuatu, pantang tergoyahkan. Ia mempunyai daya tarik kuat yang membuat setiap perempuan rela menjadi kekasihnya. Seorang yang seksi, menyenangkan, dan membangkitkan semangat.
’Si tangan kanan’ tidak pernah kehabisan tenaga untuk meraih ambisi. Ia orang yang memegang teguh komitmen dan bisa diandalkan. Kekeras kepalaannya terkadang menjengkelkan. Makanya ia membutuhkan orang yang bisa mengimbanginya. Perempuan yang berhati lembut, penyayang dan juga setia yang mampu merebut hatinya.
Menggenggam Dengan Tangan Kiri
Lelaki yang kreatif dan intuitif.
Perasaannya cukup peka dan gampang tersentuh. Ia mudah menyelami perasaan orang lain. Meski ia bukan orang yang mudah membagi perasaannya dengan orang lain. Secara kualitas pribadi, ia memiliki kemampuan yang lebih baik di bidang konsep ketimbang pelaksana. Ia bisa menjabarkan setiap persoalan secara detail namun seringkali gelagapan jika diterjunkan ke lapangan.
Ia seorang yang bisa memanjakan Anda dengan bunga, namun kesulitan ketika harus berkomitmen dengan seseorang. Sebagai pacar, ia cukup qualified. Penuh pengertian, perasa dan penuh perhatian. Jika jatuh cinta pada lelaki ini dan merasa dia lah belahan jiwa Anda, jangan pernah menyakiti hatinya.
Ponsel Dipegang Dengan Tangan Lemas alias Ogah-Ogahan
Ah, tipe sulit mengambil keputusan
Kehidupan yang dijalani sepertinya telah menekan vitalitasnya, baik tubuh dan fikiran. Sifatnya yang menonjol adalah lemah dan ragu-ragu. Ia seorang yang mudah patah semangat bila tertimpa masalah. Setiap kali akan melangkah dia selalu pesimis duluan. Ujung-ujungnya dia akan memilih mengurungkan niatnya atau mundur teratur.
Ia bukan orang yang bisa berinisiatif dalam hal apapun, apalagi dalam urusan cinta. Ia tidak akan menghubungi Anda sebelum Anda yang menghubunginya. Tipe yang pasif dan tidak keberatan apabila kendali hubungan berada di tangan kekasihnya.
Berganti-Ganti Tangan
Lelaki yang memanfaatkan kedua tangannya saat memegang ponsel menandakan ia kurang bisa fokus pada sesuatu. Mudah bosan. Perhatiannya gampang berpaling atau terbagi oleh sesuatu yang dianggapnya lebih menarik. Energinya kelewat besar hingga ia butuh penyaluran dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menantang.
Beberapa di antara mereka begitu asik dengan dirinya sendiri sehingga terkadang melupakan pasangannya. Kelebihannya ada pada keluwesannya. Gaya bicaranya sangat diplomatis dan merupakan pribadi yang aktif dan senang petualangan.
Menekan Ponsel Ke Telinga Dengan Pundak
Ia selalu ingin terlihat sibuk dan ambisius.
Semua hal ingin ia kendalikan sendiri, termasuk hubungan dengan pasangan, walau akhirnya seringkali berantakan karena ia bukan seorang manajer yang baik. Orangnya tidak praktis dan suka membesar-besarkan masalah. Emosinya mudah meledak dan perilakunya grusa-grusu.
Bukan tipe orang yang dapat menjadi pendengar yang baik karena konsentrasinya sering kali terpecah untuk urusan lain. Saat menghadapi persoalan pelik, ia lebih suka menarik diri daripada memperbaiki situasi yang terjadi.
Memanfaatkan Handsfree
Ia senang yang praktis-praktis.
Berjiwa aktif dan sportif. Gandrung akan teknologi dan melek fashion. Kepribadiannya fleksibel. Ia dapat masuk ke lingkungan pergaulan manapun. Ia juga independen dan tidak suka mengatur pasangannya agar menuruti kemauannya. Ia toleran dan akan menghargai pendapat pasangannya walau sebenarnya tidak setuju.
Kekurangannya ialah ia sangat terikat pada Anda tapi di sisi lain ia dapat melupakan ulang tahun Anda atau perayaan momen penting lainnya.
Gimana kalau ketika menelepon ia menyuruh orang lain berbicara sementara ia bertelepon? Wah, kalau seperti ini tidak diragukan lagi, ia tipikal yang doyan nguping pembicaraan orang.
source:kompas.co.id