Samudera Ilahi Juni 13, 2008
Posted by upay in Religi.add a comment
Allah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216 :
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu;dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,sedang kamu tidak mengetahui.”
Ada seorang ulama yang mengatakan, untuk dapat lebih memahami maksud firman Allah tadi, kita dapat merujuk pada pengalaman nabi Musa as ketika ia berguru kepada Khidhir as.
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, nabi Musa as pernah disuruh Tuhan berguru kepada seorang hamba saleh yang bernama Khidhir. Persyaratan yang diajukan khidhir kepada Musa sederhana saja, yaitu Musa tidak boleh bertanya mengenai apa yang dilakukannya sebelum hal itu dijelaskan sendiri oleh Khidhir. Diriwayatkan, suatu ketika mereka berdua pergi berlayar menumpang perahu seorang saudagar yang baik hati. Ketika perahu merapat dipantai, tiba-tiba khidhir mengamuk. Dikampaknya perahu itu, sehingga perahu yang semula indah, kini tampak menjadi berantakan. Kontan nabi Musa as, yang terkenal tempramental menegurnya, “mengapa ini kau lakukan, bukankah kita telah diberinya tumpangan gratis? Engkau sungguh orang yang tidak tau membalas budi!” Mendengar ini khidhir hanya menjawab pendek,”Bukankah engkau telah berjanji padaku tidak akan bertanya apapun yang aku lakukan?”
Musa tertegun dan teringat akan janjinya,bahwa ia telah menyanggupi tidak akan bertanya apapun yang dilakukan oleh khidhir.
Merekapun lalu melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang anak kecil yang wajahnya tampan. Sekonyong-konyong Khidhir membunuh anak itu! Tentu saja nabi Musa as. Terkejut dan langsung menghardik khidhir, “Betapa zalimnya engkau! Apa kesalahan anak ini sehingga ia engkau bunuh dengan kejam?” Melihat kegusaran Musa, Khidhir hanya tersenyum, lalu ia berkata, “Bukankah sudah kukatakan padamu, bahwa engkau tidak akan sanggup mengikutiku tanpa boleh bertanya atas apa yang aku lakukan?” Musa sekali lagi sadar akan janjinya, dan memohon agar ia tetap dibolehkan mengikutinya. Merekapun lalu melanjutkan perjalanan.
Disebuah desa, karena kelaparan mereka meminta sesuap nasi. Tetapi penduduk desa itu tidak ada yang peduli. Dengan perut yang keroncongan, mereka berjalan terus sampai akhirnya menemukan sebuah dinding yang hampir roboh. Khidhir pun segera memperbaikinya. Musa yang rupanya masih dongkol dengan sikap penduduk desa yang pelit itu, dengan jengkel berkata, “Mau-maunya kau lakukan ini. Bukankah mereka tak peduli dengan perut kita yang keroncongan?”
Kali ini Khidhir pun segera menjawab, “Rupanya inilah saatnya kita harus berpisah. Engkau telah tiga kali gagal menepati janjimu, yaitu untuk tidak bertanya atas apapun yang aku lakukan. Namun sebelum berpisah, akan kuterangkan kepadamu maksud dibalik semua tindakanku ini. Aku merusak perahu yang kita tumpangi dahulu, karena raja di tempat kita berlabuh itu sangat senang dengan perahu yang indah-indah. Bila perahu itu tidak kubuat cacat, niscaya raja yang zalim itu akan merampasnya. Adapun anak kecil yang aku bunuh itu, bapaknya adalah seorang ahli ibadah. Tetapi ia mempunyai rasa sayang yang sangat berlebihan kepada anak itu, sehingga hal ini akan dapat merusak pengabdiannya kepada Allah. Terakhir mengenai dinding ini. Di bawah dinding ini tersimpan harta warisan seorang saleh untuk anaknya yang masih kecil-kecil. Kalau dinding ini sampai roboh, maka harta itu akan ditemukan oleh orang lain. Tuhan menghendaki anak-anak yatim itu suatu saat kelak akan menemukan harta warisan dari ayah mereka itu. Wahai Musa, mudah-mudahan sekarang engkau paham, bahwa semua yang kulakukan ini demi kebaikan semata.”
Mendengar penjelasan Khidhir ini, Musa pun terdiam. Ia yang selama ini selalu merasa paling benar, akhirnya mengakui bahwa ada tangan Tuhan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, mengatur semua peristiwa di dunia ini agar selalu berjalan dengan harmonis.
Kisah ini memberi pelajaran kepada kita tentang rahasia Illahi. Betapa sering kita, seperti halnya Musa, protes kala merasakan ketidak-adilan. Kita menjadi masygul manakala kesedihan dan kesulitan menimpa kita. Dan terperangah bahagia kala tiba-tiba meraih kesenangan dan keuntungan. Padahal sebagaimana yang diajarkan Khidhir, apa yang nampak oleh mata kita , bisa saja bermakna sebaliknya. Kehidupan ibarat samudera Illahi yang sangat luas dan dalam. Terkadang akal saja tidak cukup. Perlu mata hati untuk menembusnya. Bahkan seorang Musa pun, yang pernah berdialog langsung dengan Allah, perlu belajar dari seorang bijak untuk mengasah mata hatinya guna menyelami kedalaman samudera Illahi tadi. Ada baiknya kita renungkan nasihat bijak yang diberikan oleh seorang ahli hikmah, “Cukuplah kita pasrahkan hidup ini kepada kehendak Tuhan, sambil berupaya semaksimal mungkin yang dapat kita lakukan.”
Dahsyatnya proses Sakaratul maut Juni 12, 2008
Posted by upay in Religi.add a comment
“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
Datangnya Kematian Menurut Al Qur’an :
1. Kematian bersifat memaksa dan siap menghampiri manusia walaupun kita berusaha menghindarkan resiko-resiko kematian.
Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati. (QS Ali Imran, 3:154)
2. Kematian akan mengejar siapapun meskipun ia berlindung di balik benteng yang kokoh atau berlindung di balik teknologi kedokteran yang canggih serta ratusan dokter terbaik yang ada di muka bumi ini.
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun? (QS An-Nisa 4:78)
3. Kematian akan mengejar siapapun walaupun ia lari menghindar.
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS al-Jumu’ah, 62:8)
4. Kematian datang secara tiba-tiba.
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS, Luqman 31:34)
5. Kematian telah ditentukan waktunya, tidak dapat ditunda atau dipercepat
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS, Al-Munafiqun, 63:11)
Dahsyatnya Rasa Sakit Saat Sakaratul Maut
Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.
Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.
Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.
Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.
Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim
Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.
Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.
Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.
Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu”. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); “Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun”. (Malaikat menjawab): “Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan”. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)
Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.
Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!
Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa
Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.
Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: “Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)
Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.
Amin !
(Sumber Tulisan Oleh : NN, dikumpulkan dari berbagai sumber)
Manfaat mengingat kematian Juni 12, 2008
Posted by upay in Religi.add a comment
Ketahuilah wahai penguasa dunia, bahwa manusia itu terdiri dari dua golongan: satu golongan yang memandang perkara dunia dan berangan-angan memiliki umur panjang. Golongan kedua adalah golongan orang-orang berakal yang menjadikan kematian sebagai cermin untuk melihat kemana tempat mereka kembali, bagaimana keluar dari dunia dengan keimanan yang tetap selamat. Mereka juga memikirkan apa yang akan
mereka bawa dari dunia untuk bekal alam kubur mereka. Mereka juga memikirkan apa yang akan mereka tinggalkan untuk musuh-musuh mereka bencana dan siksaan.
Pemikiran ini wajib dimiliki oleh manusia, lebih-lebih lagi bagi para penguasa dan pemilik dunia, karena mereka paling banyak membuat cemas hati manusia. Mereka memberikan budak-budak mereka kepada orang lain dengan cara yang jahat. Mereka membuat khawatir manusia dan membuat takut hati manusia. Sesungguhnya disisi Allah SWT terdapat seorang pengawal yang namanya Izra’il. Tidak ada tempat sembunyi bagi siapapun bagi kedatangannya. Semua pembantu kerajaan meminta upah berupa emas, perak, dan makanan, sedangkan pembantu yang ini (Izra’il) tidak meminta upah kecuali nyawa. Semua wakil Sultan memerlukan syafaat, sedangkan wakil ini (Izra’il) tidak
memerlukan syafaat. Semua wakil suka menangguh-nangguhkan tugasnya mungkin sehari, semalam, atau sejam, sedangkan wakil ini tidak pernah menangguhkan tugasnya satu hembusan nafaspun.
Ketahuilah, bahwa orang-orang yang lalai dan tertipu tidak suka mendengarkan cerita-cerita tentang kematian karena mereka tidak ingin kehilangan perasaan cinta dunia dan kelezatan makanan dan minuman mereka . Terdapat sebuah riwayat yang menyatakan bahwa orang yang banyak mengingat mati dan gelapnya liang lahat, maka kuburnya
seperti salah satu taman dari taman-taman surga. Sedangkan orang yang melupakan kematian dan lalai dari mengingatnya, maka kuburnya seperti salah satu jurang dari jurang-jurang neraka.
Pada suatu hari Rasulullah sedang membahas pahala orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang berbahagia, yaitu orang-orang yang terbunuh dalam medan perang melawan orang-orang kafir. Kemudian Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah pahala mati syahid akan diperoleh oleh orang-orang yang tidak mati syahid?” Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang mengingat kematian dua puluh kali setiap hari, maka paha dan derajatnya sama dengan orang-orang yang mati syahid.”
Rasulullah SAW bersabda, “Perbanyaklah mengingat mati karena hal itu akan menghapus dosa dan menghilangkan perasaan cinta dunia dalam hatimu.”
Rasulullah SAW pernah ditanya, “Siapakah manusia yang paling berakal dan paling bijaksana?”
Rasulullah SAW menjawab, “Orang yang paling berakal adalah orang yang paling banyak mengingat kematian. Sementara orang yang paling bijaksana adalah orang yang paling baik persiapannya. Dia akan mendapat kemuliaan di dunia dan akhirat.”
Siapa saja yang mengenal dunia sebagaimana yang telah kami uraikan dan senantiasa mengingat kematian dalam hatinya, maka urusan dunianya akan menjadi mudah. Hal itu juga akan menguatkan fondasi keimanannya, menumbuhkan dan menambahkan keimanan dalam hatinya, serta menumbuhkan cabang pohon keimanan yang ada padanya. Dia akan menemui Allah dengan keimanan yang kokoh. Allah Yang Maha Sempurna
Kekuasaan-Nya dan Maha Tinggi Perkataan-Nya, akan menerangi pandangan para penguasa dunia sehingga ia akan melihat hakikat segal;a sesuatu, bersungguh-sungguh dalam menggapai kehidupan akhirat, dan berbuat baik kepada hamba-hamba Allah serta makhluk-Nya.
Sesungguhnya ditengah-tengah makhluk terdapat berjuta-juta rakyat jika diperlakukan dengan adil maka mereka akan memberikan syafaat. Siapa saja dari kalangan orang-orang yang beriman, yang mendapatkan syafaat dari seluruh makhluk, maka pada Hari Kiamat dia akan selamat dari azab. Tetapi, jika dia menzalimi mereka, maka mereka semua akan memusuhinya. Urusannya akan hancur berantakkan. Jika pemberi syafaat
menjadi musuhnya, maka urusannya akan menjadi tidak menentu.
Sumber : Buku “ETIKA BERKUASA: Nasihat-nasihat Imam Al-Ghazali – Karya
Imam Al-Ghazali.
Yang dinamakan Agama Juni 12, 2008
Posted by upay in Religi.add a comment
Oleh : Ustaz Mahyuddin Muhammad Ghazali bin Haji Abdullah dari Madrasah Al-Fununiah Al-Tunjuniah Batu Lima Daerah Pendik Jalan Kuala Krai, Kota Bharu Kelantan
Adapun yang dinamakan agama itu ibarat daripada terhimpun padanya empat[4] perkara iaitu;
1. Iman
2. Islam
3. Tauhid
4. Makrifat
Erti Iman itu ialah percaya dan membenarkan barang(sesuatu) yang didatangkan oleh Rasulullah SAW.; iaitu tiap-tiap perkara yang disampaikan dan diajarkan oleh Nabi itu sebenarnya datang dari Allah. Bukanlah buatan dan rekaan daripada Nabi seperti firman Allah yang bermaksud;
Tiada ia(Nabi) bertutur daripada pihak kemahuan dirinya melainkan ia(Nabi) bertutur itu wahyu yang diwahyukan kepadanya.
Juga ada tersebut dalam sebuah hadis Qudsi yang menunjukkan akan kebenaran Rasulullah SAW. dengan firman Allah yang bermaksud:
Telah benarlah hambaku(Muhammad SAW.) pada tiap-tiap barang yang menyampai ia daripadaKu(Allah).
Dan adalah kesimpulan Iman itu dinamakan Rukun Imam. Ianya mencakupi enam[6] perkara iaitu;
· 1. Percayakan Allah
· 2. Percayakan Malaikat
· 3. Percayakan Kitab Allah
· 4. Percayakan Segala Rasul Utusan Allah
· 5. Percayakan Hari Qiyamat
· 6. Percayakan Untung Baik dan Untung Jahat itu daripada Allah
Adapun makna percaya akan Allah itu ialah ‘Itiqad dengan jazam[tetapdan teguh] yang putus bahawasanya Allah Taala itu adalah Tuhan Yang Esa(Tunggal) yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan yang menjadi sekelian makhluk dan mentadbirkannya dengan bijaksana dan wajib dikenal akan Allah dengan sebenar-benar pengenalan dan patut disembahkanNya.
Dan makna percayakan malaikat itu ialah percayakan bahawa Malaikat itu hamba Allah Taala yang bukan mereka itu laki-laki atau perempuan dan tiada mereka itu beribu dan berbapa dan tiada mereka itu makan dan minum dan tiada mereka itu tidur. Adalah pekerjaan mereka itu mengikut apa yang dititahkan oleh Allah Taala dan bilangan mereka itu terlalu banyak tiada boleh mengetahuinya melainkan Allah Taala jua. Sekelian mereka itu terpelihara daripada mengerjakan maksiat lagi suci mereka itu daripada segala sifat manusia. Bahawasanya penghulu-penghulu mereka itu empat iaitu;
· 1. Jibrail menyampaikan wahyu
· 2. Mikail menurunkan hujan dan menjaga rezeki
· 3. Israfil meniup sangkakala
· 4. 'Izrail mencabut nyawa
dan wajib diketahui akan mereka itu atas jalan tafsil sepuluh malaikat mengikut tugas/pekerjaan iaitu;
· Munkar dan Nakir yang menanya keduanya kepada segala orang yang telah mati.
· Malik Ridzuan menjaga syurga.
· Malik Zabaniah menjaga neraka.
· Rakid dan Atid satu pada kanan Mukallaf dan satu pada kiri menyurat keduanya akan sekelian kebajikan dan kejahatan yang dikerjakan oleh mukallaf itu.
Wajib pula mengetahui beberapa malaikat yang menanggung ‘Arash’ dan mereka itu sekarang ini empat malaikat dan ditambah akan mereka itu empat malaikat lagi pada hari qiyamat yang mana jumlah semuanya adalah lapan sebagaimana Firman Allah yang bermaksud;
“Menanggung ia [malaikat] akan ‘Arasy Tuhan engkau atas mereka itu pada hari Qiyamat lapan orang”.
Dan makna percaya akan Kitab Allah Taala itu iaitu beramal dengan segala suruhannya dan menjauh segala tegahan serta yakin dan percaya dengan sebenar-benar kepercayaan bahawasanya sebenar daripada Allah Taala. Bahawasanya kitab yang diturunkan dari langit itu sebanyak 104 Suhuf;
· 50 Suhuf diturunkan kepada Nabi Syis
· 30 Suhuf diturunkan kepada Nabi Idris
· 10 Suhuf diturunkan kepada Nabi Ibrahim
· 10 Suhuf diturunkan kepada Nabi Musa dahulu sebelum daripada Kitab Tuarat
· Kitab Taurat bagi Nabi Musa
· Kitab Injil bagi Nabi Isa
· Kitab Zabur bagi Nabi Daud
· Kitab Al-Qur'an bagi Nabi Muhammad SAW.
Maka sekelian yang tersebut itu wajib kita percaya dan membenarkannya. Akan tetapi apabila dibangkitkan Nabi Muhammad SAW. dan diturunkan kepadanya Al-Qur’an, maka tiada harus mengikut akan yang lain daripada Al-Qur’an kerana Al-Qur’an menghimpunkan dan menasakhkan akan segala hukum yang turun kepada rasul-rasul yang dulu daripada Nabi Muhammad SAW.
Dan makna percaya akan sekelian Ambiya' 'Alaihissalamtu-Wassalam adalah sekelain mereka itu 124 000 orang atas Qaul yang masyhur dan yang jadi Rasul daripada mereka itu 313 orang. Wajib dipercayai apa-apa yang dikhabarkan oleh mereka itu adalah sebenarnya titah daripada Allah Taala seperti segala suruhan dan tegahnya bukan daripada hawa nafsu mereka itu(rasul-rasul) sendiri tetapi adalah datang daripada Wahyu Allah.
Dan makna percaya akan hari Qiyamat ialah percayakan kedatangan hari penentuan yang lagi akan berlaku dengan tiada syak. Termasuk juga percaya akan alam kubur, hari bangkit semula,hari perhimpunan(masyar), kiraan amalan, mizan, pembahagian surat amalan, titian sirat, syafaat Kubra Nabi Kita Muhammad SAW.,syurga dan neraka dan lain-lain yang berkaitan dengan hari Qiyamat.
Dan percaya kepada untuk baik dan untung jahat sekeliannya adalah dengan kuasa dan kehendak Allah yang telah ditentukan dan dikadarkan daripada azali lagi.
Bermula Iman ada kalanya bertambah dengan sebab bertambah taat manusia dengan mengerjakan segala titah perintah Allah dan menjauhkan segala larangan dan ada kalanya kurang dengan sebab kurang taat dengan sebab mengerjakan maksiat seperti firman Allah dalam Surah Al-Anfaal: 3 yang bermaksud;
“Dan apabila dibaca atas mereka itu akan ayat-ayat Allah Taala nescaya bertambah mereka itu imannya”. dan sabda Nabi SAW. yang bermaksud;
‘Bermula Iman itu lebih daripda tujuh puluh cawangan”. {Riwayat Bukhari)
Dan adalah martabat orang mukmin itu tiga martabat iaitu;
· 1.Dholim Linafsih iaituZalim dirinya sendiri iaitu mereka sentiasa mengerjakan maksiat atau mereka yang mencampur amal-amal yang sholeh dengan kejahatan.
· 2. Muktasid iaitu mereka yang beramal atas perkara-perkara yang wajib dan menjauhkan perkara yang haram dengan tidak menambahkan amalan-amalan yang sunat dan tiada kurang dengannya.
· 3. Saabiqul Bilkhoiraat iaitu mereka yang berlumba kepada kebajikan iaitu mereka sentiasa Taqarub(mendekatkan diri) kepada Allah dengan mengerjakan segala yang wajib dan segala yang sunat serta meninggalkan perkara yang haram dan yang makruh seperti firman Allah dalam Surah Al-Fatir;32 yang bermaksud;
“Kemudian Kami pusakakan kitab itu untuk orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Di antara mereka ada yang aniaya kepada dirinya(tidak mengikut isi kitab/Dholim Linafsih ) dan di antaranya ada yang sederhana(menurut sekadar tenaganya/Muktasid) dan di antaranya ada yang maju(Saabiqul Bilkhoiraat) memperbuat kebajikan dengan izin Allah. Itulah kurnia yang besar”.
Adapun keadaan Iman itu setengah ulama telah membahagikan kepada lima bahagian iaitu;
1. Iman Taklid iaitu iman yang mengambil daripada perkataan orang dengan tiada boleh mengeluarkan dalil. Iman ini ada pada kebanykan orang awam.
2. Iman Ilmu Yakin iaitu iman yang jadi daripada makrifat pada segala ‘Aqaid dengan segala dalil. Iman ini adalah bagi orang-orang yang mempunyai dalil dan burhan.
3. Iman 'Ainul Yakin iaitu iman yang jadi daripada makrifat hati bagi Allah Taala dengan sekira-kira tiada ghaib daripada hatinya dengan sekejap mata jua pun. Iman ini bagi Ahli Muroqabah dinamakannya Makam Muroqabah.
4. Iman Haqqul Yakin iaitu iman yang jadi daripada musyahadahkan Allah Taala dengan Ainul Basyirah(mata hati). Iman ini bagi orang Arif yang dinamakan Maqam Musyahadah.
5. Iman Kamalul Yakin atau iman daripada hakikat iaiutu iman yang jadi daripada keadaan tiada memandang ia melainkan Allah Subhanahuwataala. Iman ini bagi orang yang Tahqiq yang dinamakan Makam Fana. {Petikan daripada Kitab ‘Aqiidatun-Najin}
Adapun erti Tauhid itu mengesakan Zat Allah Taala dan mengesakan SifatNya dan mengesakan AsmaNya dan mengesakan AfaalNya.
Adapun erti makrifat itu mengenalkan yakni mengenalkan ZatNya yang Wajibal Wujud dan mengenalkan setengah daripda Sifat Kamalat Tuhan yang tiada terhingga banyaknya dan mengenalkan setengah daripada AfaalNya yang mengadakan Mumkin daripada tiada kepada ada dan daripada ada kepada tiada.
Maka mengenal ini difardukan atas tiap-tiap mukallaf yang ‘Akil Baligh lelaki dan perempuan kerana setengah daripada permulaan yang wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui dan belajar dan mengajar akan dia sebagaimana sabda Rasulullah SAW. yang bermaksud;
“Permulaan agama ialah mengenal Allah”.
yakni mengenal setengah daripada SifatNYa yang wajib lagi sabit bagi Zat Tuhan kita; dan yang mustahil padanya dan harus padaNya seperti yang difatwakan oleh Imam Sanusi Rahimallahi Taala dengan katanya;
"Dan wajib atas tiap-tiap mukallaf pada syarak mengetahui barang yang wajib pada hak Tuhan kita dan barang yang mustahil padaNya dan barang yang harus padaNya dan demikian juga pada hak segala Rasul 'Alaihi Sholaatu Wassalam."
Maka dengan mengenal yang demikian itu barulah sah ibadatnya. Ini diambil faham daripada sabda Rasulullah yang bermaksud;
“Tiada sah ibadat melainkan kenal tuhan yang diibadat akan Dia.”
Tetapi bukanlah disuruh kenal itu Kunhi(Ain) Zat Allah Taala kerana Kunhi Zat Allah Taala tiada dapat oleh pendapat segala makhluk melainkan Nabi kita Muhammad SAW. ketika ia mikraj jua seperti Firman Allah yang bermaksud
“Tiada mendapat akan Dia (Allah) oleh segala penglihatan dan Ia jua yang mendapat akan penglihatan” dan lagi sabda Nabi SAW yang bermaksud :
“Bahawasanya Allah Taala terdinding Ia daripada penglihatan dan bahawasanya segala malaikat yang di atas menuntut akan Dia sebagaimana kamu tuntut akan dia itu”
Dan makna terdinding Alaah Taala daripada penglihatan samada penglihatan yang zhohir iaitu tiada dapat dipandang atau dilihat akan Kunhi zat Allah Taala di dalam dunia ini maka tiap-tiap perkara yang didapati dengan pancaindera di dalam dunia ini adalah sekeliannya itu makhluk bukan Tuhan.
Atau dengan fikiran iaitu tiada dapat memikir akan hakikat Kunhi zat dan kerana Tuhan itu :
“Tiada seumpama Allah Taala itu suatu dan Ia jua Tuhan yang amat mendengar lagi amat melihat”.
Dan Sabda Nabi SAW yang bermaksud :"Mahasuci engkau (hai Tuhanku) tiada aku kenal akan dikau sebenar-benar pengenalan"
Dan kata Saiyyidina Abu Bakar Al-Sidiq RA. "Lemah daripada pendapat itulah pendapat". dan kata Sayyidina Ali RA. "Tiap-tiap barang yang terlintas pada cita-citamu dan yang berupa pada hatimu maka Allah Taala bersalahan akan yang demikian itu".
Dan kata Sayyidina Jaafar Al-Shodiq RA."Barang(sesuatu) yang terlintas di hati engkau maka iaitu binasa. Bermula Allah Taala menyalahi yang demikian itu"
Dan kata segala ‘Arifin "Demikianlah Ijmak(sepakat) Ahli Sunnah Wal Jammah...tiap-tiap barang yang tersangka dengan segala sangka kamu dan dapat akan dia dengan akal kamu maka adalah ia baru seumpama kamu".
Kerana yang demikian itulah Rasulullah bersabda dengan maksudnya;
Fikir oleh kamu pada segala kejadian dan jangan kamu fikir pada Yang Menjadi kerana bahawasanya tiada dapat meliputi fikiran kamu.”
iaitu hendaklah fikir kepada segala kejadian Allah seperti langit bumi dan barang antara keduannya yang menunjukkan akan keesaan Allah dan kekuasaan.
Bahawasanya Allah Taala bersifat Ia dengan segala Sifat Kamalat yang tiada terhingga baiknya melainkan Ia jua Yang Tahu. Tiada wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui akan dia dengan jalan tafsil(perincian) melainkan dua puluh sifat jua seperti kata Imam Sanusi Rahimallahi Taala " Setengah daripada barang yang wajib mengetahui oleh tiap-tiap mukallaf bagi Tuhan kita 20 sifat.
Oleh itu tiap-tiap seorang daripada kita WAJIB mempelajari Ilmu Sifat 20 ini yang juga disebut seperti kenyataan di atas tanpa mengira siapa kita.